Karena Ukuran Kita Tak Sama

  • 0
seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi


Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.

‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.

Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.

“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”



Sumber: http://salimafillah.com/karena-ukuran-kita-tak-sama/

Sudah Benarkah Shalat Kita?

  • 0
Saudara dan Saudariku yang berbahagia! Terlampau banyak kesempatan waktu yang diberikan oleh Allah untuk kita. Tetapi terlampau sedikit kita berbuat untuk Allah, dan terlampau kecil waktu yang kita gunakan untuk Allah. Banyak waktu kita yang kita gunakan untuk hal-hal yang sia-sia, tetapi sangat sedikit waktu yang kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Tiga jam duduk di depan TV tidak terasa capeknya, tetapi satu jam duduk di masjid capeknya setengah mati. Berputar-putar di mal berjam-jam tidak terasa lelahnya, tetapi duduk setengah jam membaca Al-Qur’an sudah pegal-pegal. Perjalanan berkilo-kilo meter ke tempat hiburan tidak terasa berat, tetapi berjalan ke majlis taklim di masjid yang hanya 100 meter rasanya berat.
Mengapa kita harus melakukan sesuatu karena Allah? Apakah Allah memerlukan pengabdian kita? Tidak, Allah mampu melakukan apa saja. Dia tidak memerlukan pengabdian kita. Allah tidak memerlukan shalat kita. Allah tidak memerlukan sedekah kita. Allah tidak memerlukan amal shaleh kita. Allah sudah kaya tanpa bantuan kita. Allah sudah berkuasa tanpa pengorbanan kita. Allah sudah mulia tanpa persembahan kita.
Allah tidak memerlukan kita, tetapi kitalah yang sangat memerlukan Allah. Allah tidak memerlukan ibadah kita, tetapi kitalah yang memerlukan ibadah kepada Allah. Sebagai hamba, kita harus tahu diri, karena kita sudah banyak diberi. Sebagai hamba kita harus menyadari keberadaan kita, karena kita diadakan Allah dan tinggal di bumi Allah. Sebagai hamba, kita harus punya rasa malu, karena kita selalu meminta dan tidak pernah memberi. Allah memang tidak menjadi mulia karena pengabdian kita. Tetapi Allah punya hak atas hamba-Nya. Hak Allah yaitu tidak disekutukan dengan apapun. Hak Allah yaitu disembah dengan menyucikan-Nya.
Semestinya seluruh waktu kita, mulai dari bangun tidur sampai kembali tidur, tidak boleh sedikit pun ada yang terbuang percuma kecuali untuk ibadah kepada Allah. Namun Allah tahu, bahwa kita tidak bisa terus-menerus beribadah kepada Allah. Maka Allah berikan kesempatan kepada kita untuk melakukan apa saja yang membuat kita bisa merasakan kesenangan hidup. Kita diperkenankan makan dan minum dari rezeki yang dihamparkan Allah. Kita diperkenankan bersenang-senang bersenda gurau bersama keluarga. Kita diperkenankan berkeliling dunia melihat kebesaran Allah. Allah hanya berpesan, jaga shalat, jangan sampai mengabaikannya.
Shalat adalah bukti keislaman kita. Shalat adalah bukti kekuatan iman kita. Shalat adalah bukti bahwa kita sebagai orang yang tunduk kepada aturan Allah. Jika kita ingin melihat keislaman seseorang atau kemantapan agama seseorang, maka shalat cukup sebagai barometernya. Orang yang enggan shalat atau malas shalat, dialah yang dikategorikan sebagai orang yang tidak punya pendirian atau plin-plan. Dia dicatat oleh Allah sebagai orang munafik.
Shalat adalah bukti bahwa kita masih hidup. Hidup bagi kita tidak hanya sekadar bernafas, tidak hanya sekadar untuk makan dan melakukan aktivitas untuk diri sendiri. Tetapi hidup bagi kita harus berguna bagi orang lain. Supaya hidup kita penuh arti, maka jalani hidup ini seperti kita bekerja untuk yang Maha Agung. Jika kalian merasakan bahwa kalian melakukan pekerjaan untuk Yang Maha Agung, maka akhi dan ukhti akan merasakan betapa hidup ini begitu berarti, tidak hanya sekadar senang-senang untuk diri sendiri.
Karena itu, maka berikan makna dalam hidup ini. Maknailah hidup ini dengan ibadah shalat. Karena shalat dengan sendirinya bisa mewarnai hidup secara keseluruhan. Akhi dan ukhti boleh melakukan aktivitas apa saja, tetapi warnai aktivitas itu dengan ibadah shalat, nanti semuanya akan bernilai shalat. Jadikan semua aktivitas sebagai selingan untuk menunggu datangnya waktu shalat. Dengan begitu maka aktivitas kita bernilai sama dengan shalat. Orang yang menunggu waktu shalat sama dengan shalat. Rasulullah Saw menyatakan: Amal yang akan ditanya pertama di hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya sukses, maka amal yang lain ikut sukses. Jika shalatnya rusak, maka amal yang lain semuanya menjadi beban.
Jika shalat saja kita sudah tidak bisa, bagaimana kita akan membuktikan diri kepada Allah kalau kita adalah hamba-Nya. Jika shalat saja kita tidak sempat, bagaimana kita akan mengatakan bahwa kita adalah makhluk-Nya yang bergantung pada-Nya. Jika shalat saja kita tidak peduli, bagaimana kita minta dipedulikan Allah. Jika shalat saja kita tidak serius, bagaimana kita bisa dikatakan bersungguh-sungguh mengakui Allah sebagai Tuhan.
Kita harus sadar, bahwa kita tidak punya banyak pilihan cara untuk membuktikan diri sebagai hamba yang menyembah Allah. Cara yang lain memang banyak, tetapi relatif lebih sulit. Dengan haji kita bisa beribadah kepada Allah, tetapi kita perlu ongkos yang besar. Tetapi shalat tidak demikian. Kita bisa melakukannya kapan saja. Allah menyediakan 5 waktu untuk shalat ditambah dengan waktu-waktu lain kapan saja kalau mau untuk shalat sunnah. Karena itu, maka jangan abaikan shalat. Mumpung sekarang masih ada kesempatan untuk memperbaiki shalat, yuk mari kita perbaiki shalat kita. Jangan sampai shalat kita tidak mendapat pahala apa-apa. Sempurnakanlah shalat supaya bisa khusyuk. Karena hanya shalat yang khusyuklah yang benar-benar mengantarkan kita menjadi orang yang beruntung. Jangan sampai shalat kita hanya sekadar sebagai pengisi absen yang tidak mendapatkan pahala. Rasulullah Saw bersabda:
Sesungguhnya seorang hamba sudah mendirikan shalat, tidak dituliskan baginya pahala setengahnya, tidak sepertiganya, tidak seperempatnya, tidak seperlimanya, tidak seperenamnya, dan juga tidak sepersepuluhnya.
Mengapa shalat tidak dicatat mendapat pahala separo dan juga tidak sepersepuluhnya? Karena banyak orang yang shalat, tetapi mencuri shalatnya alias tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Banyak orang shalat, tetapi lalai dalam shalatnya. Shalat dilakukan hanya sekadar terlihat rapih lahiriahnya. Tampak sangat sempurna dilihat orang, tetapi kosong tak berisi apa-apa dan tidak bisa khusyuk. Karena itulah, maka kita perlu melakukan muhasabah dan mengevaluasi diri, apakah sudah benar shalat kita. Dan untuk itulah, maka mari kita memohon kepada Allah kiranya diberikan kemampuan untuk mendirikan shalat dengan benar. Nah, maka dari itu mari kita perbaiki shalat kita.


Sumber:"Dahsyatnya Qiyamullail dan Tahajjud"