“Buat Apa Berkerudung Kalau Kelakuan Rusak” Benarkah?

  • 1

dakwatuna.com – Perempuan yang baik adalah yang bagus agamanya, yang dimaksud ‘agamanya’ adalah agama dalam hati bukan dalam penampilan. Pertanyaan, “Berarti lebih bagus perempuan tidak berkerudung tapi baik kelakuannya (beragama) daripada perempuan berkerudung yang tidak beragama (tidak baik kelakuannya)? Jawab: “Yang lebih bagus adalah perempuan yang berkerudung dan beragama sekaligus.”
Kenapa?
Realitas memperlihatkan kepada kita bahwa perempuan berkerudung lebih banyak yang beragama ketimbang perempuan yang tidak memakai kerudung.
Jika ada perempuan tak memakai kerudung tapi beragama (berakhlaq), maka itu adalah pengecualian dari perempuan-perempuan tak berkerudung yang rata-rata kurang berakhlaq.
Begitu pula jika ada perempuan berkerudung tapi tidak/kurang beragama, maka itu adalah pengecualian dari perempuan-perempuan berkerudung yang rata-rata beragama.
Kerudung adalah setengah petunjuk kalau wanita yang memakai kerudung tersebut adalah wanita beragama, setengahnya lagi adalah hati atau perilaku kesehariannya.
Bila perilaku keseharian seorang wanita muslimah sudah bagus namun belum berkerudung, segera lengkapi dengan kerudung, agar setengahnya terlengkapi dan menjadi sempurna. Begitu pula jika seorang wanita muslimah sudah berkerudung, namun akhlaq atau perilaku kesehariannya masih tidak baik, segera lengkapi dengan akhlaq yang baik, agar setengahnya terlengkapi dan menjadi sempurna.
Jadi, jangan ada lagi orang yang berkata “Buat apa berkerudung kalau kelakuan seperti wanita tak beragama (tidak baik), lebih baik tidak berkerudung!!”
Pernyataan itu keliru karena beberapa alasan:
Pertama: Alasan Syar’i
Pernyataan tersebut sama dengan menyeru perempuan untuk melanggar apa yang telah Allah perintahkan kepada wanita muslimah. Di dalam Al-Quran Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59)
Kedua: Alasan Logis
Dikatakan sebelumnya bahwa wanita muslimah yang baik akhlaqnya namun tak berkerudung baru setengahnya menunjukkan kalau wanita tersebut beragama, karena setengahnya lagi adalah kerudung, berarti wanita yang tidak baik kelakuannya dan tidak berkerudung, tidak setengah pun menunjukkan bahwa wanita tersebut beragama. Maka, bukankah ini lebih parah nilainya di mata agama? Oleh karena itulah pernyataan di atas tidak menjadi solusi yang tepat.
Solusi yang Tepat
Bagi wanita muslimah yang sudah berkerudung dan merasa kalau akhlaq atau perilakunya masih jauh dari akhlaq seorang wanita muslimah yang sebenarnya, tidak perlu terhasut dengan pernyataan “Buat apa pakai kerudung, kalau…. dst” lantas melepas kerudungnya karena malu.
Solusi yang bijak adalah, biarkan kerudung itu tetap melekat bersamanya sembari berusaha untuk terus mengadakan perbaikan akhlaq atau perilakunya.
Pernyataan Lain
Kerudungi hati dulu, baru kerudungi penampilan”. Jika pernyataan ini memang pernah terlontar dan pernah ada, alangkah bijak jika pernyataan ini kita ubah menjadi: “Mengerudungi hati tak kalah penting dari mengerudungi penampilan”.
Tentang pernyataan pertama, dikarenakan perbaikan akhlaq adalah proses berkesinambungan seumur hidup yang jelas bukan instan, dan dikarenakan tak ada yang dapat menjamin bagaimana dan seperti apa hari esok dalam kehidupan kita? Masih di atas bumi kah atau di dalam perutnya? Masih memijak kah atau dipijak? Maka menunda berkerudung dengan alasan memperbaiki akhlaq dulu adalah sesuatu yang tidak semestinya dilakukan oleh wanita muslimah mana pun.
Adapun pernyataan kedua, memang demikianlah adanya, bacalah Al-Quran dan tadabburi maknanya, maka kita temukan bahwa hampir setiap kali Allah berfirman tentang wanita muslimah yang baik (beragama), isinya adalah tentang “Bagaimana seharusnya wanita muslimah itu berperilaku?” selebihnya adalah tentang “Bagaimana seharusnya wanita muslimah itu berpenampilan?”. Jika berkenan bacalah QS. An-Nur ayat 31, At-Tahrim ayat 5, 10, 11 dan 12, dan seterusnya.
Pernyataan berikutnya adalah:
“Kerudung itu bukan inti dari Islam!” Ya, saya pribadi setuju, memang bukan inti dari Islam, tapi bagian penting dari Islam yang jika bagian itu tidak ada, maka terlalu sulit untuk dikatakan “Ini Islam” sama sulitnya untuk dikatakan “Ini bukan Islam”.
Dikatakan wanita muslimah sulit karena tidak pernah mau pakai kerudung, dikatakan bukan wanita muslimah juga sulit, karena shalat, zakat dan ibadah-ibadah lainnya tetap dikerjakan, juga akhlaqnya adalah akhlaq wanita muslimah.
Kalau saya ibaratkan, hal ini seperti bangunan rumah yang tak nampak seperti rumah, namun lebih tampak seperti gudang; berjendela tanpa kaca, tanpa lantai ubin, dan tanpa atap dan seterusnya.
Dikatakan rumah sulit, karena dari luar hampir tak dapat dibedakan dengan gudang. Dikatakan bukan rumah juga sulit, karena ternyata penghuninya lengkap, pasangan suami istri dan satu anak lelaki.
Jendela berkaca, pintu, atap, dan lantai ubin memang bukan bagian inti dari rumah, tapi tanpa adanya semua itu, sebuah bangunan akan kehilangan identitasnya sebagai rumah, konsekuensinya, orang-orang akan menyangka kalau bangunan tersebut adalah gudang tak berpenghuni.
Kerudung atau jilbab adalah identitas seorang muslimah (wanita beragama Islam). Kerudung lah yang memberi isyarat kepada lelaki-lelaki muslim bahkan semua lelaki bahwa yang mengenakannya adalah wanita terhormat, sehingga sangat tidak pantas direndahkan dalam pandangan mereka, kata-kata mereka, maupun perbuatan mereka (para lelaki).
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59)
Kesimpulan
Identitas seorang wanita muslimah itu adalah jilbab dan akhlaqnya, akhlaq tanpa jilbab kurang, sama kurangnya dengan jilbab tanpa akhlaq”.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17744/buat-apa-berkerudung-kalau-kelakuan-rusak-benarkah/#ixzz1iqKx1aKu

dakwatuna.com – Mexico City. Dibesarkan sebagai seorang Kristen, Manuel Gomez sekarang berganti nama menjadi Mohamed Chechev. Tepatnya, setelah ia bersyahadat beberapa tahun lalu. Bersama beberapa Tzotzil lain, iabersyahadat setelah menerima pencerahan dari seorang Muslim asal Spanyol yang bermukim di Meksiko selatan.
“Saya Muslim, saya tahu kebenaran kini. Saya berdoa lima kali sehari, merayakan Ramadhan dan telah melakukan perjalanan ke Makkah,” kata Chechev dalam bahasa Spanyol.
Dia tinggal di sebuah komunitas Protestan di Chiapas disebut yang disebut Nueva Esperanza di pinggiran San Cristobal de las Casas. Dia berbagi sebuah rumah sederhana dengan 19 kerabat dan menjual sayuranyang ditanamnya di sebidang tanah.
Referensi Alkitab berlimpah-limpah di Nueva Esperanza, dengan jalan-jalan bernama Betlehem dan sejenisnya. Tetapi, Nueva Esperanza kini juga menjadi rumah bagi sekitar 300 warga Tzotzil, masyarakat adat asal Maya, yang telah masuk Islam dan hidup selaras dengan sisa populasinya.
Istri Chechev yang bernama Noora (terlahir bernama Juana) dan adik iparnya, Sharifa (sebelum berislam bernama Pascuala) juga menjadi Muslim mengikuti jejaknya. Mereka mengenakan gaun panjang dan kerudung menutupi rambut mereka.
Noora adalah putri dari seorang pemimpin pribumi Protestan yang diusir dari San Juan Chamula, kota terdekat di mana Partai Revolusioner Institusional dan keuskupan tertinggi Katolik memerintah. bersama puluhan keluarga lainnya, mereka terusir tahun 1961 karena mempertahankan agama Protestan.
“Di Chamula, tak menjadi Katolik atau anggota partai PRI adalah sebuah kejahatan. Mereka juga marah karena Protestan menganjurkan berhenti minum alkohol, salah satu bisnis lokal utama,” kata Susana Hernandez, yang tinggal di wilayah itu.
Beberapa orang pribumi telah sangat kritis terhadap umat Katolik untuk mengidentifikasi terlalu dekat dengan Partai Revolusioner Institusional yang memerintah Meksiko selama 70 tahun. Seorang pemimpin adat bernama Domingo Lopes, yang juga aktivis gereja Advent, belakangan menemukan pencerahan setelah mengenal Islam.
Ia menyatakan keislamannya tahun 1993, dan menjadi buah bibir di wilayah itu. Namun pada perkembangannya kemudian, banyak yang mengikuti jejaknya; menjadi Muslim.
Menurut antropolog Gaspar Morquecho, sebanyak 330 ribu warga Tzotzil di Chiapasmemang mempunyai sejarah beberapa kali pindah agama. Dulu, mereka dipaksa dengan kekerasan untuk menganut Katolik saat kollonialisme Spanyol merambah wilayah itu pada abad ke-16. Saat itu, hanya sedikit yang beragama Islam. Umumnya, mereka percaya agama leluhur, dan Protestan. (Siwi Tri Puji B/MEO/RoL)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/11/16332/warga-suku-indian-maya-berbondong-bondong-masuk-islam/#ixzz1iqI7AL98

Pembantaian-Pembantaian yang Dialami Rakyat Palestina



dakwatuna.com – Dulu, dan masih terus berlanjut hingga sekarang, terror adalah bagian mendasar dari pemikiran Zionis yang disandarkan kepada akar ideology. Kitab Taurat Yahudi yang telah mengalami perubahan dan juga Talmud memuji penggunaan kekuatan, kekerasan dan pemusnahan non Yahudi. Taurat yang telah mengalami perubahan telah menggambarkan bagaimana Bani Israel saat memasuki kota Jericho seraya membunuh semua penduduk yang ada di dalamnya baik laki-laki, wanita, anak-anak dan orang tua dengan tebasan pedang. Zionis Yahudi sekarang ini belajar dari contoh-contoh ini dan menganggapnya sebagai teladan yang patut ditiru. Di mana, menurut aqidah Yahudi yang telah mengalami perubahan, tidak ada nilainya kemanusiaan orang non Yahudi yang diciptakan untuk menjadi pelayan mereka.
Tidak mungkin mendirikan entitas Yahudi murni di atas tanah Palestina tanpa melakukan pembantaian demi pembantaian dan gelombang pengusiran secara paksa terhadap mayoritas penduduk Arab (Palestina) yang telah tinggal di negeri mereka sejak ribuan tahun. Berbagai isyarat mengenai pembersihan orang-orang Arab (Palestina) berulang-ulang disebutkan dalam berbagai bentuk di buku-buku dan biografi para senior pemimpin Zionis dan entitas Zionis Yahudi semisal Hertzel, Waizman, Bin Gorion, Begin, Ishak Rabin dan yang lainnya.150
Dan ketika PBB mengeluarkan resolusi pembagian wilayah Palestina, seharusnya yang tinggal di negara Israel (yang diusulkan) adalah 498 ribu Yahudi dan 498 ribu Arab (Palestina), artinya itu menjadi negara dwi kebangsaan yang dihuni kedua belah pihak masing-masing separuh jumlah penduduk. Diperkirakan akibat pertambahan penduduk (secara alami pertambahan penduduk Arab jauh di atas penduduk Yahudi) maka orang Arab (Palestina) menjadi mayoritas nyata dalam beberapa tahun saja. Hal yang membuat proyek Zionis kehilangan substansi ide (pemikiran), di nama negara itu dibangun demi ide tersebut. Untuk itu, pihak Zionis Israel sejak awal berusaha menghalau rintangan ini dengan dua cara. Pertama, menteror orang-orang Arab (Palestina) dan memaksa mereka untuk hengkang dan kedua mendorong hijrah (migrasi) orang-orang Yahudi ke entitas Israel meski hingga terpaksa menteror orang-orang Yahudi di negara-negara Arab dengan melakukan berbagai kejahatan dengan menampakkan bahwa orang-orang Arab yang telah melakukannya, untuk memberi rasa tidak aman bagi orang-orang Yahudi bahwa mereka tidak punya tempat di sana.
Pada saat perang tahun 1948, Zionis Israel melakukan kejahatan 34 pembantaian gulna merealisasikan rencana-rencana mereka di Palestina. Pembantaian yang paling besar dan terkenal adalah pembantaian “Der Yasin”.151 Pembantaian ini dilaksanakan oleh dua geng teroris Yahudi Irgun (yang dipimpin Menachem Begin) dan Shtern yang berkoordinasi dengan Hagana. Pembantaian ini terjadi pada malam dan pagi tanggal 9-10 April 1948. Desa Der Yasin terletak di sisi jalan menuju al Quds. Dalam aksi ini, Zionis Israel membantai lebih 254 orang Palestina laki-laki, wanita dan anak-anak (dalam sebagian riwayat disebutkan jumlahnya lebih 360 orang dari jumlah total penduduk desa 600 jiwa) secara keji dan biadab.
Kita tengok sebentar mengingat pembantaian Der Yasin sebagai salah satu contoh terorisme Zionis Israel. Hari itu “Hayah Balbibisi” berada di sekolah bersama 15 anak murid putra dan putrid, dia rubah sekolahan itu menjadi pusat medis karena dia petugas Palang Merah (saat itu belum ada Bulan Sabit Merah karena Palestina berada di bawah pendudukan Zionis Israel) yang bertanggung jawab di Der Yasin. Dia menyangka dengan itu dapat melindungi dirinya dan juga anak-anak. Dia menampung korban luka di sana. Pada siang hari, datang Zionis Israel membunuh korban luka, membantai anak-anak tadi dan juga dirinya. Kemudian mereka meletakkan seluruh korban berbentuk kemaluan yang di atasnya diletakkan jasadnya. Seorang wanita muda Yahudi segera melepas bendera Palang Merah yang menempel di pintu sekolah dan menancapkannya dalam-dalam di tengah-tengah tumpukan jenazah tadi sehingga membuat semua teroris Yahudi yang ada ada di lokasi bertepuk tangan penuh kekaguman dengan apa yang dilakukan wanita muda tersebut.
Nasib lebih tragis apa yang di alami al Haj Ismail Athiya, seorang kakek-kakek berusia 90 tahun. Setelah pasukan Zionis Israel membunuhnya, mereka menyeret kedua kakinya ke tengah-tengah jalan kemudian berjoget sambil berteriak-teriak di seputar jenazahnya. Sedang istrinya tengah menggendong cucu satu-satunya di rumah. Seorang wanita muda Yahudi mendatanginya sedang di tangannya memegang kapak dan dihantamkan ke kepala sang bocah hingga sumsum otaknya muncrat ke dinding-dinding rumah. Sejurus kemudian dia bunuh sang nenek terus berjoget berjingkrak-jingkrak di atas kedua jenazah tersebut.
Mereka mendatangi seorang ibu muda Palestina, Shalahiya. Mereka anaknya yang berusia 2 tahun di depan kedua matanya. Kemudian menyeret wanita tersebut dalam lingkaran dan mulai berjoget di seputarnya sambil mencabik-cabik pakaian yang dikenakannya sedikit demi sedikit hingga tuntas. Selanjutnya beberapa wanita muda Yahudi mendekatinya dan melukainya di wajah, dada dan perut sedang dia kala itu hamil 9 bulan.
Mereka menangkap seorang kakek berusia 70 tahun. Kemudian melemparnya ke atas rumah dan menjadikannya sasaran bergerak untuk percobaan pembidikan di udara. Ketika jasadnya jatuh ke tanah mereka menginjak-injaknya dengan sepatu mereka. Mereka juga membunuh seorang wanita bernama Khalidiya yang sudah di ambang melahirkan. Mereka membelah perutnya dengan pisau, namun saat para wanita desa berusaha hendak mengeluarkan bayi dari perutnya, wanita itu dibunuhnya pula.152
Menachem Begin (yang menjadi Perdana Menteri Zionis Israel 1977 -1983 serta mendapat hadiah Nobel perdamaian) mengungkapkan kebanggaannya dengan pembantaian ini, serta menganggapnya sebagai alasan penting dalam pendirian negara Yahudi dan pengusiran Arab (Palestina). Dia mengatakan, “…Orang-orang Arab mengalami guncangan dahsyat tanpa batas setelah berita (pembantaian) Der Yasin. Mereka mulai melarikan diri guna menyelamatkan nyawa-nyawanya…, dari 700 ribu jumlah orang Arab yang tinggal di Israel sekarang tidak tersisa kecuali 165 ribu saja” … “apa yang terjadi di Der Yasin dan apa yang diberitakan tentangnya telah membantu pelempangan jalan kita untuk menggapai kemenangan di dalam pertempuran sengit di arena perang. Legenda Der Yasin telah membantu kita secara khusus menyelamatkan perang Haifa” … “pembantaian Der Yasin memiliki dampak dan pengaruh luar biasa dalam jiwa orang-orang Arab (Palestina) yang menyamai 6 kebahagiaan serdadu-serdadu.”153
Pembantaian seperti di Der Yasin terjadi berulang-ulang di desa-desa Arab (Palestina) lainnya saat terjadi perang tahun 1948. Di mana telah terjadi banyak pembantaian dengan kekejian dan kebiadaban serupa sebagaimana yang terjadi di Thantura, Nashiruddin, Bet Daras dan yang lainnya. Seorang sejarawan Israel yang juga seorang peneliti dalam militer Israel kala itu, Aryeh Yeshavi telah mengakui hal itu dengan mengatakan, “Jika kita total fakta-fakta dan realita kita mengetahui bahwa pembantaian Der Yasin terjadi terlalu jauh dari tabiat yang semestinya guna menduduki desa Arab, terjadi penghancuran terbanyak jumlah rumah di dalamnya. Dalam aksi-aksi ini telah dibunuh banyak sekali wanita, anak-anak dan orang tua.”154
Selanjutnya pembantaian-demi pembantaian terus dilakukan Zionis Israel setelah itu. Pada malam tanggal 14 – 15 Oktober 1953 terjadi pembantaian “Qibya”, sebuah desa Arab di Tepi Barat. Lebih 600 serdadu Zionis Israel dipimpin teroris Ariel Sharon (yang kemudian hari menjadi perdana menteri Israel) menyerbu desa tersebut. Serangan malam hari ini mengakibatkan 67 penduduk sipil desa gugur syahid dan sejumlah besar lainnya mengalami luka-luka. Aksi ini juga menghancurkan 56 rumah, masjid desa, sekolah dan pusat penampungan air di desa tersebut. Zionis Israel sengaja menghancurkan rumah-rumah sementara penduduk berada di dalamnya. Tercatat seorang wanita Palestina gugur dalam kondisi duduk di antara puing reruntuhan rumahnya yang nampak muncul di antara reruntuhan itu tangan-tangan dan kaki-kaki kecil keenam anaknya, di antaranya adalah jasad suaminya dengan tubuh terkoyak tak berbentuk oleh senjata Zionis Israel yang tergeletak di jalan menuju rumah.155
Pada 10 Oktober 1956 Zionis Israel melancarkan pembantaian Qalqilia dengan membantai 70 penduduk sipil yang ada di kota tersebut dan menimbulkan kehancuran dalam skala besar.
Pada 29 Oktober 1956 terjadi pembantaian Kafer Qasim, nama sebuah desa Arab di Palestina yang diduduki Israel sejak tahun 1948. Hari itu Zionis Israel menyatakan pelarangan aktivitas total (blackout) di dalam desa tersebut sejak pukul 17.00, sementara para petani Palestina yang sedang bekerja di ladang-ladang mereka tidak mengetahui larangan itu. Ketika para petani mulai pulang menuju ke rumah-rumah mereka, instruksi tembak mati di tempat telah dikeluarkan. Akibatnya, 49 orang Palestina gugur syahid di antaranya 15 anak-anak dan ditambah puluhan lainnya luka-luka. Zionis Israel berupaya menutupi aksi kejahatan mereka dengan menggelar pengadilan terhadap para pelaku dan menghukum sejumlah dari mereka dengan hukuman sangat pendek. Sementara colonel Sichar Shadmy yang mengeluarkan instruksi baru diajukan ke pengadilan pada tahun 1959 dengan dijatuhi sanksi celaan (kecaman) dan membayar denda senilai satu qirsh Israel (sebanding dengan 1/100 pound)!!156 Seakan nyawa setiap orang Palestina hanya dinilai tidak lebih dari datu qirsh menurut pengadilan Israel.
Pada pembantaian di kamp pengungsi Khan Yunis pada 3 November 1956, Zionis Israel membantai 250 penduduk sipil Palestina. Kemudian mereka kembali membunuh warga sipil lainnya sebanyak 275 dari kamp yang sama pada 12 November 1956. Dan pada hari yang sama mereka membantai lebih dari 100 warga sipil kamp pengungsi Rafah, selatan Jalur Gaza.157
Pada tanggal 13 November 1966 Zionis Israel melakukan aksi pembantaian al Samu’ dengan membunuh sekitar 18 warga dan 134 lainnya luka-luka.158
Pada saat penjajah Zionis Israel menduduki Tepi Barat dan Jalur Gaza, dalam perang tahun 1967, mereka mengusir 330 ribu orang Palestina. Salah seorang serdadu Israel yang bertugas di tepi sungai Yordan kala itu mengakui, telah ada instruksi untuk mereka secara jelas dan tegas agar membunuh orang-orang sipil Palestina yang berusaha kembali ke Tepi Barat. Dia mengatakan, “Kami membunuh orang-orang yang masih hidup yang kami temui dan membunuh orang-orang yang terluka meskipun mereka itu wanita dan anak-anak. Sehingga saat kami bertugas militer dan setelah usai perang dalam jangka lama kami masih terbiasa dan sering menembak di daerah kami sendiri, setiap malam selalu ada orang yang terbunuh dan setiap pagi kami menemukan di antara mereka terluka dalam langsung kami habisi sekalian.”
Seorang komandan Israel Kapten Ely Levi pernah menuturkan kisah yang mengisyaratkan kepada jalan pemikiran dan kerja komando militer Israel. Dia menuturkan bahwa saat perang tahun 1973 dia bersama sejumlah pasukannya menyerang desa di dataran tinggi Golan. Mereka mengumpulkan warga desa yang berjumlah sedikit di area yang luas. Tiba-tiba datang dua jenderal militer Israel, Ravael Eitan dan Apighdor Bengol. Dengan nada heran Eitan bertanya kepada komandan Mayor Ghory, apa yang akan kalian lakukan terhadap mereka? Mayor Ghory menjawab, “Kami akan meminta mereka untuk kembali ke rumah-rumah mereka.” Dengan nada keras Jenderal Eitan berteriak, Apa?! Tidakkah kalian akan menembak mereka semua?! Mereka semua adalah prajurit Suriah yang bersembunyi di balik pakaian sipil, saya bersumpah untuk itu.” Kemudian datang kapten Ely Le’evi dan berkata, “Akan tetapi di antara mereka anak-anak dan wanita?” Eitan menjawab, “Yang terbayangkan oleh kalian begitu!! Kalian harus menembak mereka dan membunuh semuanya.” Ely bertanya kembali, “Apakah ini perintah ya Jenderal?” Etan menjawab, “Ya, itu perintah!” Lantas Ely berkata, “Saya ingin itu tertulis Jenderal.” Maka dengan nada mengejek Eitan berkata, “Sesungguhnya engkau tidak ingin berperang, sungguh aku telah salah duga padamu wahai anak muda!!”159
Ravaiel Eitan adalah komandan korps angkatan bersenjata di Golan saat perang tahun 1973, kemudian menjadi komandan wilayah utara pada tahun 1974 – 1977. Dan selanjutnya menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel pada tahun 1978 – 1983, di mana dia memegang komando dalam aksi pendudukan terhadap Lebanon pada tahun 1972. Dialah pemilik ungkapan yang sangat terkenal, di antaranya adalah ungkapannya yang menyebutkan bahwa orang-orang Palestina di tanah terjajah mereka adalah “kecoa-kecoa kotor di dalam botol.”160
Pada saat aksi pendudukan Zionis Israel atas Lebanon pada musim panas tahun 1982, setelah kurang dari 4 minggu sejak dimulainya aksi ini (5 – 30 Juni 1982), gugur syahid sekitar 15 ribu warga sipil. Salah seorang dokter dari Kanada yang bertugas di Shaida mengatakan, 50% korban yang gugur adalah anak-anak di bawah usia 13 tahun. Laporan lain menyebutkan bahwa menjelang akhir bulan Agustus 1982 korban sipil yang gugur mencapai 19 ribu jiwa, sementara korban luka mencapai 80 ribu jiwa.161 Letkol Etan Kalibton dalam kesaksiannya yang diterbitkan harian Israel Ha’olam Hazeh pada 7 Juli 1982 menyebutkan bahwa di sana ada seorang komandan dan pasukannya sengaja membunuh warga sipil yang terisolasi dan orang-orang yang tidak berdosa yang ada di dalam kamp-kamp pengungsi Palestina. Etan mengatakan bahwa dirinya ingat sekali para serdadu memuntahkan timah panas mereka atas instruksi dari komandan senior ke arah orang-orang tua, wanita dan anak-anak Palestina di dalam kamp-kamp pengungsi di Ain Halwa. Dia mengatakan, “Saya menyaksikan sendiri anak-anak Palestina menangis dan meraung-raung setelah para serdadu membunuh ibu-ibu mereka di depan matanya. Sebagian serdadu ada melemparkan meriam ke dalam kemah-kemah di kamp pengungsi Ain Halwa, padahal di dalamnya ada puluhan warga sipil yang belum keluar satu pun dari mereka.”162
Dengan dipimpin Ariel Sharon, Ravail Etan dan Amer Dory, pada tanggal 16 – 18 September 1982, Israel mengorganisasi pembantaian Sabra, Satila dan Okalwa. Tugas pembantaian ini dilakukan oleh pasukan milisi al-Numur, pimpinan
Presiden Kamil Shamon dan kelompok Haras al-Ruz (Phalangis), pimpinan
Etan Shaqar bekerja sama dengan milisi brigade Israel dan pasukan militer Lebanon Selatan yang bekerja untuk Sa’ad Hadad, semuanya adalah milisi Marunia (palangis). Zionis Israel menduduki Beirut Barat pada 15 September, pada tanggal 16 malam berikutnya mulailah dilakukan operasi pembantaian yang berlangsung selam 40 jam. Zionis Israel – yang telah mengepung lokasi – membekali para milisi teroris ini dengan sarana penerangan dan mengawasi aksi-aksi pembantaian layaknya orang yang duduk di barisan pertama dalam pentas sandiwara. Aksi pembantaian ini mengakibatkan 3297 warga sipil pengungsi Palestina gugur yang mayoritasnya adalah anak-anak, wanita dan orang tua. Para penjagal ini menggunakan kapak, pisau dan senjata tajam lainnya untuk meremukkan kepada-kepala, memenggalnya dan memotong-motong tubuh. Ditambah lagi pemerkosaan terhadap kaum wanita dan gadis-gadis. Para criminal ini sangat menikmati, terutama saat membunuh anak-anak dan mencincang mereka. Di salah satu kemah di kamp pengungsi ditemukan mayat seorang bocah bayi yang masih menyusu dalam keadaan terpotong-potong anggota tubuhnya. Kemudian potongan-potongan itu disusun melingkar dan diletakkan di tengahnya kepada bayi tersebut.163
Pembantaian Shabra dan Shatila adalah pembantaian yang mengerikan dan mengguncang nurani kemanusiaan. Di mana pasukan Zionis Israel dan para milisi ini tidak dapat menutupi dan menyembunyikan kedahsyatannya yang mengerikan. Sebagaimana biasanya, pihak penjajah Zionis Israel segera membentuk tim investigasi guna memoles potret buruknya melalui media informasi serta untuk mencuci tangan pihak Israel dan para pemimpinnya. Tim ini kemudian cukup dengan memberikan sanksi kecaman terhadap Sharon. Dan setelah itu, segera dia menjadi Menteri Kependudukan kemudian dipilih menjadi PM entitas Zionis Israel pada Februari 2001.
Meletusnya intifadhah Palestina (1987) di Tepi Barat dan Jalur Gaza adalah kesempatan bagi entitas Zionis Israel untuk melakukan pembunuhan terhadap warga sipil Palestina. Selama enam tahun, dari tahun 1987 – 1993, tidak kurang dari 1540 warga gugur, 130 ribu terluka dan 116 ribu lainnya ditahan. Berdasarkan perkiraan Lembaga Solidaritas Internasional untuk Hak Asasi Manusia, daftar korban yang gugur meliputi anak-anak sebanyak 268 dan wanita 127 jiwa.164 Selama berlangsung intifadhah ini, di antara yang dilakukan pasukan Zionis Israel adalah pembantaian di masjid al Aqsha pada 8 Oktober 1990, pada saat kaum muslimin berusaha mempertahankan masjid al Aqsha dari upaya kelompok Yahudi bernama “Umana Jabal Haikal” meletakkan batu pondasi bagi haikal Yahudi ketiga di pelataran masjid al Aqsha. Pasukan Zionis Israel langsung melakukan intervensi dan menembaki para jamaah shalat, tanpa kecuali. Hal ini mengakibatkan 21 orang gugur dan 150 lainnya terluka.165
Pada tanggal 25 Februari 1994 bertepatan dengan tanggal 15 Ramadhan 1414 H, saat orang-orang Palestina menjalankan shalat subuh, Baruch Golstein menyerang masjid Ibrahimi di Hebron/al Khalil, Tepi Barat. Dengan menggunakan senjata otomatis teroris Yahudi ini memberondong jamaah shalat yang tengah sujud di dalam masjid, yang dibantu para warga pemukim Yahudi. Sementara itu pasukan Zionis Israel dan penjaga perbatasan dalam jumlah besar telah mengepung masjid Ibrahimi, jumlah mereka mencapai 300 serdadu. Para serdadu ini turut menembaki ke arah orang-orang Islam yang menyerang Baruch Golstein dengan tubuh-tubuh mereka hingga berhasil membunuhnya. Para serdadu ini juga menembaki para jamaah yang keluar dari masjid dan orang-orang datang untuk menolong saudara-saudara mereka. Menurut data resmi, jumlah korban yang gugur adalah 29 orang dan lebih 300 lainnya terluka (data tidak resmi menyebutkan 54 orang gugur dan ratusan lainnya terluka). Baruch Golstein adalah seorang dokter militer dengan pangkat kapten kelahiran Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Hijrah ke Palestina mengusung doktrin radikal, dengan membuat perumpamaan bahwa orang Arab adalah sejenis “Epidemi (wabah)… Mereka adalah virus-virus yang memindahkan penyakit kepada kita.” Dia adalah seorang Yahudi sangat fanatic yang menganggap aksi pembantaian semacam ini sebagai cara “mendekatkan diri kepada Tuhan”. Orang-orang Yahudi radikal menganggapnya sebagai orang suci, bahkan kuburannya hingga hari ini menjadi tempat suci bagi orang-orang Yahudi ini.166
Ketika rezim penjajah Zionis Israel menyatakan membuka penggalian terowongan di bawah masjid al Aqsha (yang mengeruk pondasi-pondasi tembok barat masjid), pada 24 September 1996, kaum muslimin kembali melakukan perlawanan dan memprotes keras. Sementara pihak Zionis Israel bertindak sangat berlebihan dan sangat represif sampai menggunakan helicopter tempur. Akibatnya, 62 orang Palestina gugur dan lebih 1500 lainnya terluka. Di antara korban yang gugur ada sekitar 15 orang dari kepolisian Palestina yang dengan terpaksa melakukan balasan, dikarenakan serangan yang dilakukan Zionis Israel terhadap wilayah pemerintah Palestina.167
Intifadhah al Aqsha yang meletus sejak 28 September 2000 adalah contoh nyata pengorbanan Palestina dan terorisme Israel. Pihak penjajah Zionis Israel menggunakan semua sarana perang yang ada pada mereka. Mulai dari senjata otomatis, tank-tank Merkava, pesawat heli tempur Apache, pesawat tempur F16 hingga senjata yang dilarang secara internasional, dalam menghadapi rakyat yang terisolasi dan bertekad ingin mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan. Hal inilah yang kemudian memaksa orang-orang Palestina melakukan aksi meledakkan dirinya (bom syahid) dalam aksi-aksi syahid ke komunitas-komunitas Zionis Israel, karena tidak ada pilihan lain. Dan terbukti aksi ini dapat menciptakan keseimbangan perlawanan menghadapi kebiadaban Israel.
Hingga 15 September 2001, data yang ada menunjukkan jumlah korban yang gugur mencapai 700 syuhada’ dan lebih 35 ribu lainnya terluka. Menurut data, dari korban yang terluka, 9500 di antaranya adalah mereka yang berusia di bawah 18 tahun. Sementara itu ada 2500 orang yang mengalami cacat permanent di antaranya adalah 537 anak.168 Data lain yang dikeluarkan departemen kesehatan Palestina pada awal Agustus 2001 menyebutkan bahwa di antara korban syahid yang jumlahnya 634 ada 153 anak.169
(Data terakhir hingga Februari 2005, menurut laporan Dinas Penerangan Umum Palestina, lembaga resmi di bawah Pemerintahan Palestina, menunjukkan jumlah syuhada yang gugur mencapai 4007 orang, ditambah 82 syahid lainnya yang belum teridentifikasi. Sementara itu lebih 52882 lainnya terluka sebagian besar menderita cacat permanent, pentj./www.infopalestina.com).
Keganasan Zionis Israel untuk menghabisi intifadhah terus bertambah. Pada bulan Maret dan April 2002, mereka melakukan serangkaian pembantaian secara biadab. Yang terkenal adalah pembantaian di kamp pengungsi Jenin, di mana sejumlah laporan menyebutkan korban yang syahid dalam pembantaian ini berjumlah lebih 500 orang Palestina. Itu terjadi selama paruh pertama bulan April 2002. Pihak militer Zionis Israel melakukan penghancuran bangunan-bangunan dan rumah-rumah warga Palestina di kamp Jenin di atas kepala-kepala pemiliknya. Pada saat yang sama pihak penjajah Zionis Israel melarang media untuk mendekati lokasi, agar dunia tidak bisa menyaksikan hakikat sebenarnya yang terjadi di kamp pengungsi Jenin kala itu. Dan dalam waktu yang sama, pembantaian serupa juga terjadi di Nablus. Lebih dari 70 orang Palestina gugur syahid. Pada saat militer Zionis Israel melakukan aksinya di kota-kota dan desa-desa di Tepi Barat, kala itu, mereka menghancurkan sebagian besar infrastruktur Palestina termasuk di dalamnya adalah institusi-institusi pemerintah Palestina, mulai di bidang pendidikan pengajaran, kesehatan hingga keamanan sambil merampas dan mencuri apa saja yang ada di dalamnya.
Mereka juga menduduki dan menguasai kantor Yaser Arafat di Ramallah, yang dikepung dengan sejumlah pembantunya di salah satu kamar di kantornya. Mereka menghancurkan mobil-mobil ambulance dan bahkan mereka gunakan untuk memburu orang-orang Palestina. Mereka melarang tim medis mendekati dan mengevakuasi para korban, sementara darah bercucuran dari tubuh mereka hingga kehabisan darah dan meninggal. Mereka juga melarang, berhari-hari, pemakaman korban yang gugur. Utusan khusus PBB di Palestina, Tery Rod Larsen mengecam keras rezim penjajah Israel. Dia menyebut kehancuran yang dilakukan Israel di kamp pengungsi Jenin – setelah melihat dan berkeliling sendiri di kamp pada 18 April 2002 – sebagai kebiadaban yang sulit untuk dibenarkan. Dia menyebut kamp pengungsi Jenin sebagai “dihancurkan total, seakan gempa dahsyat telah menghantam kawasan”. Larsen juga mengecam keras rezim penjajah Israel yang melarang tim penolong masuk ke Jenin selama 11 hari.170
Dan begitulah, teror adalah bagian alami dari ideology Zionis Israel serta logika komunitas koloni Yahudi dan para pemimpin yang berkuasa di entitas Zionis Israel. []
TAMAT